Kemenperin Buka Progres Mobil Nasional, Koordinasi dengan Danantara Diperkuat
Kemenperin Buka Progres Mobil Nasional, Koordinasi dengan Danantara Diperkuat Program mobil nasional kembali mendapat perhatian setelah Kementerian Perindustrian menyampaikan perkembangan terbaru mengenai proses yang sedang berjalan. Pemerintah belum memasuki tahap peluncuran kendaraan untuk masyarakat, tetapi koordinasi antarinstansi terus dilakukan untuk mematangkan susunan program, fasilitas produksi, kandungan komponen lokal, hingga dukungan pembiayaan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Kemenperin terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk Danantara. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama DPR pada akhir Agustus 2026. Posisi Kemenperin saat ini terutama memberikan dukungan terhadap proses penyusunan program, sementara penyelesaian peta jalan melibatkan instansi lain yang mempunyai kewenangan terkait.
Perkembangan terbaru itu menunjukkan proyek mobil nasional belum berada pada tahap ketika pemerintah dapat mengumumkan harga, jaringan penjualan, maupun spesifikasi final kendaraan. Pekerjaan yang sedang berlangsung justru berada pada lapisan yang lebih mendasar, yakni menyiapkan produk, kapasitas manufaktur, struktur industri pendukung, sertifikasi, dan skema agar kendaraan dapat diproduksi dalam jumlah besar.
Kemenperin Masih Mematangkan Program Bersama Banyak Lembaga
Keterangan terbaru Agus Gumiwang menegaskan pengembangan mobil nasional tidak dikerjakan satu kementerian secara terpisah. Program tersebut membutuhkan koordinasi antara lembaga yang menangani industri, pembiayaan, perencanaan pembangunan, transportasi, energi, riset, pendidikan, serta badan usaha yang mempunyai kemampuan produksi.
Danantara menjadi salah satu pihak yang disebut secara khusus oleh Menperin dalam koordinasi terbaru. Keterlibatan lembaga tersebut berkaitan dengan kebutuhan pendanaan serta pengembangan proyek industri strategis yang membutuhkan investasi besar dan waktu pengerjaan panjang.
Pemerintah harus memastikan kendaraan yang nantinya menggunakan status mobil nasional tidak berhenti pada perakitan produk jadi. Kandungan lokal, kemampuan rekayasa, rantai pemasok, penguasaan teknologi, serta kapasitas produksi komponen menjadi bagian penting yang terus dibicarakan.
Karena itu, pengembangan mobil nasional mempunyai pekerjaan yang lebih luas daripada sekadar menempelkan merek Indonesia pada kendaraan.
“Menurut penulis, ukuran keberhasilan mobil nasional seharusnya terlihat dari seberapa besar kemampuan industri Indonesia menguasai rekayasa, komponen, produksi, dan layanan, bukan hanya dari nama merek yang digunakan.”
Pindad Tetap Memegang Peran Penting
Dalam program resmi pemerintah, PT Pindad menjadi salah satu perusahaan yang memperoleh peran utama untuk pengembangan mobil nasional.
Menteri Perindustrian sebelumnya menyampaikan Pindad sedang mendesain kendaraan nasional dan pemerintah berharap kandungan lokalnya dapat melampaui sejumlah kendaraan listrik yang saat ini telah diproduksi di Indonesia. Agus mengatakan TKDN kendaraan listrik produksi lokal saat ini berada pada rentang sekitar 30 persen sampai 70 persen, tergantung produk.
Pindad mempunyai pengalaman panjang dalam pengembangan kendaraan. Perusahaan tersebut telah menghasilkan berbagai kendaraan khusus dan kendaraan multifungsi, termasuk keluarga Maung yang digunakan oleh institusi pemerintah serta pertahanan.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu modal ketika perusahaan masuk lebih jauh ke kendaraan sipil.
Namun, mobil nasional yang ditujukan untuk pasar luas mempunyai kebutuhan berbeda dibandingkan kendaraan khusus. Produk harus kompetitif dalam harga, kenyamanan, konsumsi energi, keselamatan, kualitas manufaktur, serta biaya perawatan.
Subang Disiapkan Menjadi Basis Industri
Salah satu bagian proyek yang sudah mulai terlihat berada di Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kementerian Pertahanan pada Juni 2026 melaporkan pembangunan kawasan industri otomotif terintegrasi yang pada tahap awal menggunakan lahan sekitar 60 hektare. Kapasitas produksi awal yang direncanakan mencapai sekitar 50 ribu kendaraan per tahun.
Rencana jangka panjang jauh lebih besar.
Paparan PT Pindad kepada Menteri Pertahanan menyebut kawasan dapat berkembang hingga sekitar 539 hektare dengan kemampuan produksi mencapai 300 ribu unit per tahun. Fasilitas tersebut dirancang mencakup area produksi, pusat rekayasa kendaraan, tempat pengujian, serta fasilitas pendukung.
Skala tersebut memperlihatkan pemerintah tidak sedang membicarakan produksi beberapa ratus mobil sebagai proyek simbolis.
Agar kendaraan nasional mampu bersaing di pasar, produksi memang harus mencapai volume yang cukup besar. Jumlah produksi akan memengaruhi biaya komponen, investasi peralatan, efisiensi pabrik, harga jual, serta kemampuan membangun jaringan layanan.
Target Produksi Massal Kini Mengarah ke Akhir 2028
Jadwal proyek mengalami perkembangan dibandingkan pernyataan pemerintah sebelumnya.
Pada November 2025, Agus Gumiwang sempat mengatakan mobil nasional diproyeksikan mulai diproduksi pada 2027. Saat itu pembicaraan dengan Pindad telah mencakup jenis kendaraan, teknologi, strategi harga, pemasaran, dan layanan setelah penjualan.
Namun, Presiden Prabowo Subianto pada pidato mengenai RAPBN 2027 tanggal 14 Agustus 2026 menyampaikan target yang lebih baru. Presiden mengatakan produksi massal mobil nasional direncanakan dimulai pada akhir 2028 dan fasilitasnya sedang dibangun di Subang.
Perbedaan waktu tersebut menunjukkan jadwal proyek masih bergerak mengikuti kesiapan fasilitas dan program.
Produksi awal, pengujian kendaraan, prototipe, serta produksi massal juga merupakan tahapan berbeda. Kendaraan dapat memasuki fase uji atau produksi terbatas lebih dahulu sebelum pabrik mencapai volume komersial besar.
Dengan demikian, akhir 2028 menjadi acuan terbaru yang disampaikan langsung Presiden untuk produksi massal.
TKDN Tinggi Menjadi Salah Satu Sasaran Utama
Kemenperin sangat menekankan Tingkat Komponen Dalam Negeri dalam pengembangan kendaraan nasional.
TKDN menunjukkan seberapa besar bagian nilai sebuah produk berasal dari kegiatan dan komponen dalam negeri sesuai metode perhitungan pemerintah.
Kandungan lokal yang tinggi dapat memberi ruang lebih besar bagi produsen komponen Indonesia. Pabrik ban, kabel, jok, kaca, plastik, komponen logam, sistem kelistrikan, sampai komponen kendaraan listrik dapat memperoleh permintaan apabila masuk ke jaringan pemasok.
Kemenperin pada Juni 2026 menyebut sudah terdapat kendaraan listrik produksi Indonesia dengan TKDN di atas 60 persen. Pemerintah ingin kemampuan industri tersebut terus meningkat.
Mobil nasional karena itu menghadapi standar yang cukup tinggi.
Bila sebagian besar komponen bernilai besar masih didatangkan dari luar negeri, manfaat industrinya akan lebih kecil dibandingkan kendaraan yang mempunyai rantai produksi lokal kuat.
Insentif EV Akan Diarahkan ke Produk Bernilai Tambah Tinggi
Mobil nasional juga mulai berkaitan dengan kebijakan insentif kendaraan listrik.
Agus Gumiwang pada Agustus mengatakan kendaraan listrik yang nantinya memperoleh prioritas insentif diarahkan kepada produk yang memberikan nilai tambah tinggi di Indonesia, mempunyai struktur industri lokal kuat, serta termasuk dalam program mobil atau motor nasional.
Sebelumnya, Menperin juga mengatakan pemerintah akan memprioritaskan mobil merek nasional dalam rancangan insentif EV.
Sampai saat ini, detail skema tersebut belum seluruhnya diumumkan.
Pemerintah belum menjelaskan secara lengkap ukuran sebuah kendaraan dapat disebut merek nasional, besaran fasilitas yang diberikan, maupun perlakuan terhadap merek asing yang sudah mempunyai pabrik dan TKDN tinggi di Indonesia.
Rincian ini penting karena industri otomotif Indonesia sudah memiliki investasi besar dari perusahaan Jepang, Korea Selatan, China, Eropa, serta sejumlah negara lain.
Pemerintah Tidak Ingin Mobil Nasional Sekadar Proyek Merek
Dokumen kebijakan pemerintah menempatkan pengembangan mobil nasional sebagai bagian dari agenda hilirisasi dan industrialisasi.
Tujuannya mencakup peningkatan kapasitas industri dalam negeri, penguatan rantai pasok, peningkatan penggunaan komponen lokal, penciptaan pekerjaan berkualitas, serta pengurangan ketergantungan terhadap impor.
Pendekatan ini menjadi pembeda penting.
Indonesia sebenarnya telah menjadi basis produksi kendaraan selama puluhan tahun. Berbagai mobil yang dijual di dalam negeri sudah diproduksi di Jawa Barat dan wilayah lainnya dengan kandungan lokal cukup besar.
Tantangan mobil nasional adalah menaikkan posisi Indonesia dari lokasi manufaktur menjadi pihak yang mempunyai penguasaan lebih besar terhadap rancangan, teknologi, merek, dan keputusan pengembangan produk.
Nilai ekonomi yang tersimpan pada desain dan teknologi dapat sama pentingnya dengan aktivitas perakitan.
Proyek i2C Juga Masuk Pembicaraan
Di luar pengembangan fasilitas Pindad, nama Indigenous Indonesian Car atau i2C terus muncul dalam pembicaraan mengenai kendaraan nasional.
Proyek kendaraan listrik ini dikembangkan PT Teknologi Militer Indonesia. i2C pertama kali ditampilkan kepada publik dalam bentuk model tanah liat ukuran penuh pada GIIAS 2025. Kini pengembangannya sudah bergerak ke tahap penyempurnaan desain, struktur skateboard atau sasis, serta persiapan showcar dan prototipe awal.
Presiden Direktur PT TMI Harsusanto mengatakan pengembangan kendaraan telah bergerak dari model awal menuju rekayasa teknis.
PT TMI juga menyatakan tidak ingin langsung membangun pabrik baru untuk produksi tahap awal. Perusahaan memilih berdiskusi dengan manufaktur lokal yang masih mempunyai kapasitas produksi belum digunakan sepenuhnya.
Strategi tersebut dapat mempercepat produksi karena investasi bangunan dan fasilitas baru tidak perlu seluruhnya dilakukan dari awal.
i2C dan Program Pindad Perlu Dibedakan
Munculnya beberapa proyek kendaraan nasional membuat publik perlu membedakan setiap program secara hati hati.
Dokumen pemerintah dan berbagai pernyataan resmi menempatkan Pindad sebagai pelaku utama program mobil nasional yang fasilitas besarnya dikembangkan di Subang. Sementara i2C merupakan proyek kendaraan listrik PT TMI yang juga sering disebut sebagai salah satu calon atau bagian dari ekosistem kendaraan nasional.
Sampai pemerintah menerbitkan peta jalan final, tidak tepat menganggap seluruh proyek tersebut sebagai satu kendaraan yang pasti sama.
Bisa saja beberapa perusahaan memperoleh peran berbeda dalam ekosistem.
Satu pihak dapat bergerak pada rekayasa kendaraan, pihak lain menangani manufaktur, sedangkan perusahaan lain menyediakan baterai, motor listrik, sistem elektronik, atau komponen.
Keterangan terbaru Kemenperin bahwa program masih dalam proses perumusan memperlihatkan pembagian tersebut memang belum sepenuhnya terbuka kepada publik.
i2C Menargetkan Produksi Puluhan Ribu Unit
PT TMI mempunyai target sendiri untuk proyek i2C.
Perusahaan menyebut produksi awal dapat memanfaatkan fasilitas manufaktur Indonesia yang mempunyai kapasitas tidak terpakai. Target yang dikemukakan berada di sekitar 50 ribu kendaraan selama tiga tahun awal produksi.
Pengembangannya sekarang difokuskan pada struktur kendaraan.
Platform skateboard merupakan bagian penting pada mobil listrik karena menjadi dasar tempat baterai, motor listrik, suspensi, serta komponen utama ditempatkan.
Setelah rancangan tersebut matang, perusahaan dapat bergerak menuju showcar dan prototipe yang benar benar dapat menjalani pengujian.
Prototipe juga berbeda dari model pameran. Kendaraan harus diuji dari sisi performa, keamanan, sistem kelistrikan, ketahanan struktur, pengereman, temperatur baterai, hingga kompatibilitas pengisian.
Pabrik Besar Tidak Cukup Tanpa Pemasok Lokal
Fasilitas perakitan merupakan satu bagian dari industri otomotif.
Mobil terdiri dari ribuan komponen yang datang dari banyak perusahaan. Bila setiap komponen harus dibuat oleh produsen utama sendiri, biaya investasi akan sangat besar.
Karena itu, Kemenperin juga memperkuat keterlibatan industri kecil dan menengah dalam rantai pasok kendaraan listrik.
Pada Juni 2026, kementerian menyatakan pengembangan kendaraan listrik harus membuka ruang lebih besar kepada IKM agar nilai ekonomi tidak hanya terkumpul pada pabrikan besar.
Komponen sederhana sekalipun mempunyai nilai ketika diproduksi dalam jumlah puluhan ribu unit.
Satu mobil membutuhkan jok, kabel, kaca, karpet, baut, panel plastik, karet, perangkat elektronik, pelek, serta berbagai bagian lain. Ketika kapasitas produksi mencapai 100 ribu kendaraan per tahun, kebutuhan komponen ikut meningkat dalam jumlah sangat besar.
Harga Akan Menentukan Kemampuan Bersaing
Salah satu pertanyaan yang belum dijawab pemerintah adalah berapa harga mobil nasional.
Agus sebelumnya mengatakan strategi harga sudah termasuk dalam pembahasan bersama Pindad, tetapi angka final belum disampaikan.
Harga mempunyai posisi sangat penting karena pasar kendaraan Indonesia sangat sensitif terhadap cicilan.
Mobil nasional nantinya harus bersaing dengan produk yang sudah mempunyai jaringan dealer besar, pilihan pembiayaan, fasilitas servis, pasokan suku cadang, serta reputasi penggunaan selama bertahun tahun.
Produk lokal tidak otomatis akan dipilih hanya karena menggunakan identitas nasional.
Konsumen tetap mempertimbangkan harga, kualitas, desain, jarak tempuh untuk kendaraan listrik, garansi baterai, biaya perawatan, nilai jual kembali, dan kemudahan memperoleh suku cadang.
Layanan Setelah Penjualan Harus Dibangun Sejak Awal
Industri otomotif tidak berhenti ketika kendaraan keluar dari pabrik.
Pelanggan membutuhkan bengkel, teknisi, suku cadang, pusat informasi, perbaikan kecelakaan, pembaruan perangkat lunak, serta dukungan garansi.
Karena itu, strategi pelayanan setelah penjualan sudah masuk pembahasan pemerintah sejak tahap awal proyek.
Kesalahan yang perlu dihindari adalah memproduksi kendaraan lebih cepat daripada kesiapan ekosistem layanan.
Konsumen dapat menerima sebuah merek baru apabila merasa mempunyai kepastian ketika kendaraan membutuhkan perawatan.
Untuk kendaraan listrik, kebutuhan tersebut bertambah dengan kemampuan diagnosis baterai, inverter, motor listrik, dan sistem elektronik bertegangan tinggi.
Kebutuhan SDM Juga Mulai Dipersiapkan
Presiden Prabowo telah meminta perguruan tinggi memastikan lulusan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan program industrialisasi, termasuk pengembangan kendaraan nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto pada Juni menjelaskan pemerintah sedang menghitung kebutuhan tenaga kerja untuk berbagai sektor hilirisasi agar ekspansi industri tidak mengalami kekurangan orang dengan kompetensi yang sesuai.
Mobil nasional membutuhkan banyak jenis keahlian.
Insinyur mekanik dibutuhkan untuk sasis dan struktur. Insinyur elektro menangani motor, baterai, serta sistem kontrol. Tenaga perangkat lunak semakin penting karena kendaraan modern mempunyai banyak sistem digital.
Di sisi manufaktur dibutuhkan teknisi produksi, pengelasan, pengecatan, kontrol kualitas, pemeliharaan mesin, sampai logistik.
Kesiapan tenaga kerja menjadi penting bila kapasitas produksi Subang benar benar berkembang menuju ratusan ribu kendaraan per tahun.
Kapasitas Awal 50 Ribu Unit Menjadi Tahap Penting
Rencana kapasitas awal sekitar 50 ribu kendaraan per tahun di kawasan Subang dapat menjadi ukuran awal apakah industri mampu beroperasi dengan efisien.
Jumlah tersebut sudah cukup besar untuk sebuah proyek baru, tetapi masih jauh di bawah kapasitas pabrikan otomotif besar yang telah lama beroperasi di Indonesia.
Pada tahap tersebut, tantangan terbesar berada pada kestabilan kualitas.
Produksi massal menuntut setiap unit mempunyai standar yang sama. Celah panel, kualitas cat, perangkat elektronik, sistem pengereman, sampai perangkat lunak harus bekerja konsisten pada kendaraan pertama maupun kendaraan puluhan ribu.
Kesalahan kecil yang terjadi berulang pada produksi besar dapat berubah menjadi biaya garansi yang tinggi.
“Mobil nasional tidak akan dinilai hanya pada hari peluncuran. Ujian sebenarnya dimulai setelah ribuan unit berada di tangan konsumen dan digunakan setiap hari.”
Akhir 2028 Menjadi Tenggat yang Kini Diperhatikan
Dengan pernyataan terbaru Presiden mengenai produksi massal akhir 2028, pemerintah mempunyai sekitar dua tahun untuk menyelesaikan banyak pekerjaan besar.
Fasilitas produksi harus disiapkan, kendaraan menjalani rekayasa dan pengujian, pemasok dipilih, kandungan lokal ditingkatkan, sertifikasi diselesaikan, jaringan distribusi dibangun, serta skema harga dan pembiayaan ditentukan.
Kemenperin sendiri kini menegaskan masih berada dalam koordinasi aktif bersama kementerian, lembaga, dan Danantara. Peta jalan lengkap belum diumumkan kepada publik.
Tahapan berikutnya akan menjadi lebih penting ketika prototipe produksi mulai diperlihatkan dan spesifikasi kendaraan tidak lagi berupa gambaran umum.
Dari sana, publik dapat menilai seberapa besar komponen yang benar benar dikembangkan di Indonesia, jenis penggerak yang digunakan, kapasitas baterai apabila memakai sistem listrik, target harga, serta kesiapan manufaktur untuk memenuhi target produksi massal yang telah diarahkan menuju akhir 2028.
