MAB Solarky Sun V Siap Meluncur, Mobil Surya Murah di Bawah Rp150 Juta

Otomotif4 Views

MAB Solarky Sun V Siap Meluncur, Mobil Surya Murah di Bawah Rp150 Juta

MAB Solarky Sun V Siap Meluncur, Mobil Surya Murah di Bawah Rp150 Juta Industri kendaraan listrik nasional kembali mendapat sorotan setelah PT Mobil Anak Bangsa menyiapkan Solarky Sun V untuk pasar Indonesia. Mobil kota mungil ini menarik perhatian karena membawa panel surya di atap sebagai sumber pengisian daya tambahan. Dengan target harga di bawah Rp150 juta, Sun V diposisikan sebagai kendaraan listrik terjangkau yang siap masuk ke segmen pemula, bersaing dengan mobil listrik kompak yang sudah lebih dulu dikenal konsumen Tanah Air.

MAB Siapkan Sun V untuk Pasar Indonesia Tahun Ini

Kehadiran Sun V bermula dari kerja sama PT Mobil Anak Bangsa, Solarky Mobility Technologies asal Hong Kong, dan PT Fortuna Ventura Investindo. Dalam kerja sama tersebut, MAB berperan sebagai perakit kendaraan, Solarky memasok teknologi dan komponen utama, sementara Fortuna Ventura Investindo menangani distribusi dan penjualan di Indonesia. Model yang dirakit adalah Solarky Sun V, kendaraan penumpang kecil yang memakai panel surya di bagian atap.

Rencana produksi dilakukan di pabrik MAB di Demak, Jawa Tengah. Produksi memakai skema IKD atau Incompletely Knocked Down, sehingga unit akan dirakit di dalam negeri dengan dukungan komponen dan teknologi dari Solarky. Langkah ini menjadi perluasan bisnis MAB yang sebelumnya lebih dikenal melalui kendaraan komersial listrik seperti bus, truk, dan kendaraan niaga.

CEO PT MAB Kelik Irwantono menyampaikan bahwa target penjualan awal diarahkan untuk pasar domestik. Dalam laporan Moladin, Kelik menyebut target penjualan pertama diharapkan bisa berjalan sekitar Mei sampai Juni 2026. Pada tahap pertama, produksi dimulai dari 2.000 unit sebelum dinaikkan bertahap sesuai kebutuhan pasar.

Harga Diincar di Bawah Rp150 Juta

Harga menjadi daya tarik utama Sun V. Sejumlah laporan menyebut MAB dan Solarky menargetkan banderol di bawah Rp150 juta agar mobil ini bisa masuk ke kelas kendaraan listrik terjangkau. Jika target tersebut tercapai, Sun V dapat menjadi salah satu mobil listrik paling murah yang memiliki tambahan panel surya di pasar Indonesia.

Target harga itu membuat Sun V langsung dibandingkan dengan Wuling Air ev, Seres E1, dan VinFast VF 3. Perbandingan tersebut cukup wajar karena dimensinya sama sama ringkas dan ditujukan untuk kebutuhan mobilitas perkotaan. Sun V memiliki panjang 3.150 mm, lebar 1.490 mm, dan tinggi 1.700 mm, sehingga ukurannya berada di kelas city car kecil.

Meski ada beberapa informasi promosi dan pameran yang menyebut angka berbeda, harga resmi nasional tetap perlu menunggu pengumuman final dari pihak terkait setelah proses homologasi dan kesiapan penjualan selesai. Karena itu, angka di bawah Rp150 juta sebaiknya dibaca sebagai target awal yang menjadi acuan posisi produk.

Panel Surya Jadi Pembeda Paling Menarik

Sun V bukan hanya mobil listrik mungil biasa. Pembeda terbesarnya ada pada panel surya yang terpasang di atap kendaraan. Teknologi ini diklaim dapat membantu menambah daya baterai, terutama saat kendaraan terparkir atau dipakai dalam jarak tertentu. Moeldoko selaku pendiri MAB menyebut panel surya tersebut menjadi nilai tambah karena mendukung efisiensi energi dan pemanfaatan sumber energi terbarukan.

Panel surya ini bukan pengganti penuh pengisian utama. Pengisian dari jaringan listrik tetap tersedia melalui plug in charging. Namun, adanya panel surya memberi tambahan sumber daya yang dapat membantu pemakaian harian, terutama untuk pengguna yang menempuh rute pendek di kota.

Dalam beberapa laporan, teknologi panel surya Sun V disebut mampu memberi tambahan jarak sekitar 50 km, sementara baterai utama memberikan jarak sekitar 150 km. Total jarak yang sering disebut berada di kisaran 200 km dalam penggunaan tertentu. Klaim tersebut masih perlu diuji dalam kondisi jalan Indonesia, cuaca, gaya mengemudi, dan beban kendaraan.

Spesifikasi Awal Sun V Mengarah ke Mobil Kota

Sebagai kendaraan kota, Sun V membawa ukuran yang kecil dan bobot yang dibuat ringan. Beberapa data pasar luar menyebut panjang kendaraan 3.150 mm, lebar sekitar 1.490 mm, tinggi 1.700 mm, jarak sumbu roda 2.070 mm, serta radius putar sekitar 4,75 meter. Ukuran seperti ini membuatnya cocok untuk jalan perkotaan yang padat dan area parkir sempit.

Untuk tenaga, sejumlah laporan menyebut Sun V memakai motor listrik 15 kW dengan torsi 85 Nm. Ada pula data pasar yang menyebut baterai sekitar 10,2 kWh dengan jarak tempuh baterai utama sekitar 150 km, ditambah daya dari panel surya. Spesifikasi pasar Indonesia masih menunggu kepastian final karena MAB sebelumnya menyatakan detail teknis lengkap berada dalam tahap finalisasi dan menunggu persetujuan regulator.

Dengan karakter seperti itu, Sun V jelas tidak diarahkan sebagai mobil jarak jauh. Kendaraan ini lebih cocok untuk rute harian seperti rumah ke kantor, antar jemput anak, belanja, pergi ke stasiun, atau mobil kedua di rumah. Ukurannya kecil, daya listriknya tidak sebesar EV premium, tetapi biaya penggunaan harian berpotensi rendah.

Produksi Lokal Menjadi Nilai Jual Industri

Pabrik MAB di Demak menjadi basis penting dalam rencana produksi Sun V. Fasilitas ini akan mengerjakan perakitan kendaraan dengan skema IKD. Solarky bertugas memasok komponen utama dan teknologi pendukung, sedangkan MAB memastikan proses perakitan, standar kualitas, pengujian, homologasi, gudang unit, serta mekanisme garansi.

Langkah ini memberi nilai industri karena proses perakitan dilakukan di dalam negeri. Walau teknologi awal berasal dari luar, adanya produksi lokal dapat membuka ruang kerja, transfer kemampuan teknis, dan penyesuaian produk terhadap kebutuhan pengguna Indonesia. MAB juga sebelumnya telah masuk dalam segmen kendaraan listrik komersial, sehingga Sun V menjadi perluasan ke kendaraan penumpang kecil.

Pada tahap awal, PT Fortuna Ventura Investindo disebut berkomitmen menyerap 2.000 unit pada tahun pertama. Volume tersebut berpotensi naik hingga 10.000 unit per tahun jika respons pasar dan kesiapan produksi mendukung.

Sun V Masuk Kelas EV Pemula yang Makin Ramai

Segmen EV pemula semakin ramai dalam dua tahun terakhir. Konsumen Indonesia mulai mengenal mobil listrik berukuran kecil karena harga lebih mudah dijangkau, biaya listrik lebih murah dibanding BBM, dan bentuknya cocok untuk rute perkotaan. Sun V mencoba masuk dengan pembeda panel surya yang belum banyak tersedia di model lain.

Di kelas harga rendah, calon pembeli biasanya sangat memperhatikan biaya awal, biaya pengisian, keandalan baterai, garansi, dan ketersediaan bengkel. Jika Sun V benar berada di bawah Rp150 juta, mobil ini berpeluang dilirik oleh pembeli pertama EV yang ingin mencoba kendaraan listrik tanpa mengeluarkan dana terlalu besar.

Namun, Sun V harus membuktikan banyak hal. Selain harga, konsumen akan melihat kualitas rakitan, kenyamanan kabin, keamanan, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, serta kejelasan garansi baterai. Mobil murah tetap perlu rasa aman karena akan dipakai untuk aktivitas keluarga.

Bukan Sekadar Murah, Efisiensi Jadi Bahan Jualan

Sun V membawa pesan bahwa mobil listrik kota bisa dibuat lebih hemat energi. Panel surya tidak selalu memberi pengisian besar seperti stasiun pengisian, tetapi dapat membantu menambah daya saat mobil berada di luar ruangan. Untuk negara tropis seperti Indonesia, gagasan ini cukup menarik karena sinar matahari tersedia sepanjang tahun.

Moeldoko menyebut panel surya pada kendaraan ini dapat memberi manfaat saat kendaraan terparkir atau digunakan dalam jarak tertentu. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa panel surya lebih realistis diposisikan sebagai pendukung, bukan satu satunya sumber daya.

Konsumen perlu memahami batasannya. Panel surya pada mobil kecil punya ruang terbatas, sehingga hasil pengisian bergantung pada intensitas cahaya, durasi paparan matahari, posisi parkir, kondisi panel, dan cuaca. Bila pengguna berharap panel surya menggantikan seluruh pengisian listrik, ekspektasi itu perlu diluruskan.

Pengisian Plug In Tetap Dibutuhkan

Meski memakai panel surya, Sun V tetap mengandalkan pengisian listrik melalui kabel. Laporan MobilKomersial menyebut jika jarak pemakaian melebihi kemampuan energi surya, pengemudi tetap bisa memilih pengisian plug in. Ini berarti pengguna tetap membutuhkan akses listrik rumah atau stasiun pengisian sesuai spesifikasi kendaraan.

Untuk mobil listrik pemula, kemampuan mengisi dari listrik rumah menjadi poin penting. Banyak konsumen Indonesia belum memiliki akses fast charging yang dekat dengan rumah. Jika Sun V dapat diisi melalui stop kontak rumah dengan aman sesuai petunjuk, maka biaya pemakaian harian bisa dibuat lebih terkendali.

Namun, pengguna tetap perlu memperhatikan instalasi listrik. Pengisian mobil listrik tidak boleh dilakukan sembarangan dengan kabel yang tidak sesuai. Dealer dan distributor perlu memberi panduan jelas mengenai daya listrik minimal, durasi pengisian, jenis colokan, serta prosedur keamanan.

ADAS Disebut Menjadi Opsi Tambahan

Untuk menjaga harga tetap terjangkau, fitur keselamatan aktif seperti ADAS disebut tersedia sebagai opsi tambahan. Laporan Moladin menyebut Solarky menyiapkan ADAS sebagai pilihan agar harga dasar Sun V tetap kompetitif di pasar kendaraan listrik entry level.

Strategi ini masuk akal dari sisi harga. Mobil di bawah Rp150 juta sulit membawa semua fitur canggih tanpa membuat biaya produksi naik. Namun, pilihan fitur keselamatan tetap perlu dijelaskan secara transparan. Konsumen harus tahu fitur apa saja yang ada pada varian dasar dan fitur apa yang harus dibeli sebagai paket tambahan.

Selain fitur elektronik, aspek keselamatan dasar seperti rem, struktur bodi, sabuk keselamatan, airbag, dan standar uji kendaraan harus menjadi perhatian utama. Harga murah tidak boleh mengorbankan perlindungan penumpang.

Tantangan Homologasi dan Standar Kualitas

Sebelum dijual luas, Sun V harus melewati proses homologasi. MAB disebut memiliki tanggung jawab mengurus homologasi kendaraan, mengatur proses perakitan dari awal sampai akhir, memastikan standar kualitas, melakukan pengujian, dan menyiapkan garansi.

Proses ini penting karena kendaraan yang masuk pasar harus sesuai dengan aturan Indonesia. Mulai dari dimensi, lampu, sistem kelistrikan, rem, emisi untuk kendaraan listrik, perlindungan baterai, sampai persyaratan keselamatan perlu diperiksa. Tanpa proses tersebut, kendaraan tidak bisa dijual secara resmi dengan tenang.

Bagi konsumen, status resmi menjadi hal utama. Pembeli perlu memastikan unit yang dibeli memiliki dokumen legal, STNK, garansi jelas, serta dukungan bengkel. Jangan hanya tergoda harga murah bila status penjualan dan layanan belum kuat.

Target 2.000 Unit Jadi Langkah Awal

Komitmen pembelian 2.000 unit pada tahun pertama menunjukkan bahwa Sun V tidak hanya disiapkan sebagai pajangan teknologi. Ada rencana distribusi dan pemasaran yang cukup nyata. Jika pasar menerima, volume bisa dinaikkan bertahap hingga ribuan unit lebih banyak.

Jumlah 2.000 unit untuk tahap awal cukup masuk akal. Produk baru membutuhkan waktu untuk menguji respons konsumen, melihat kendala produksi, menyiapkan suku cadang, dan membangun jaringan layanan. Dengan jumlah yang tidak terlalu besar, perusahaan dapat memperbaiki proses sebelum menaikkan volume.

Jika Sun V mendapat sambutan baik, MAB dan mitranya dapat meningkatkan produksi sesuai kebutuhan pasar. Namun, kenaikan volume harus diikuti layanan purnajual yang memadai agar pembeli awal tidak merasa ditinggalkan.

Posisi Sun V bagi MAB

Bagi MAB, Sun V dapat menjadi produk penting karena membawa perusahaan masuk ke pasar kendaraan penumpang kecil. MAB sebelumnya dikenal melalui kendaraan listrik komersial. Dengan Sun V, perusahaan mencoba mendekati konsumen ritel yang jumlahnya jauh lebih besar.

Masuk ke pasar ritel tidak mudah. Konsumen pribadi biasanya lebih sensitif terhadap desain, kenyamanan, fitur, garansi, cicilan, dan nilai jual kembali. Mereka tidak membeli berdasarkan kebutuhan armada, tetapi berdasarkan rasa percaya terhadap merek dan produk.

Karena itu, MAB perlu membangun komunikasi yang jelas. Nama model, harga, varian, spesifikasi, garansi, jaringan dealer, bengkel, dan suku cadang harus disampaikan secara terbuka. Jika semua unsur ini siap, Sun V punya peluang menjadi pembuka jalan bagi mobil listrik lokal di segmen murah.

Cek Harga dan Hal yang Perlu Ditunggu

Saat ini, angka yang paling sering disebut untuk Sun V adalah target di bawah Rp150 juta. Beberapa materi promosi pihak luar sempat menampilkan angka lain, termasuk sekitar Rp159 juta, tetapi harga resmi yang berlaku secara nasional tetap perlu menunggu pernyataan final dari pihak distributor dan MAB.

Calon pembeli sebaiknya menunggu daftar harga resmi, varian, garansi baterai, biaya servis, pilihan warna, paket kredit, serta kepastian status dokumen kendaraan. Untuk produk baru seperti ini, informasi purnajual sama pentingnya dengan harga jual.

Sun V membawa tawaran yang menarik, yaitu mobil listrik kecil dengan panel surya, target harga rendah, produksi lokal di Demak, dan jarak tempuh harian sekitar 200 km dalam klaim awal. Bila harga resmi benar mendekati target, mobil ini dapat menjadi salah satu pemain paling mencolok di segmen EV kompak Indonesia pada 2026.